KABAR TERBARU
Disini kalian dapat menemukan kabar terbaru hari ini
Monday, 2 October 2017
DIAM BUKAN PILIHAN
Danau kecil dengan pohon pinus di sekelilingnya itu selalu tenang dan menenangkan. Danau itu terletak di sebuah sekolah bernafas islam tempatku mengajar saat ini. Pagi selalu saja lebih hangat dengan alunan merdu asmaul husna dari masjid sekolah. Usai melaksanakan dhuha, anak-anak kembali bersemangat menuju ke kelas untuk belajar. Oleh karena aku merupakan guru yang terbilang muda, anak-anak selalu dekat denganku seolah tak ada rahasia yang perlu mereka tutupi dariku.
Mulai dari Keisha yang sering mendapat surat di laci mejanya, Ridwan yang sering diconteki temannya, sampai Divo yang selalu bercerita apapun tentang dirinya. Bisa dikatakan, Divo adalah siswa yang paling dekat denganku. Pagi ini setelah memasuki ruang kelas VIII A, mataku terpaku pada satu bangku yang biasanya menghibur dengan candanya di kelas. Tiga hari sudah Divo absen tanpa keterangan. Tidak biasanya. Terakhir kali, wajahnya murung dan terkesan menutupi sesuatu dariku, tak seperti biasanya.
Sebagai guru yang sekaligus wali kelas VIII A, aku tak bisa tinggal diam saja. Aku harus segera mencari tahu apa yang terjadi. Dengan motorku, segera kutelusuri jalan menuju rumah Divo. Beberapa kali aku berkunjung hanya sekadar untuk mampir sekaligus mengantar Divo pulang. Sesampainya di rumah Divo, kabar miris datang dari para tetangga.
Divo dan keluarganya terpaksa pindah ke kota seberang. Konon, calon wali kota seberang menjanjikan uang jutaan rupiah bagi mereka yang rela pindah status kependudukan dari kota ini ke kota seberang. Tentunya dengan syarat mereka harus menyumbangkan suara mereka kepada calon tersebut. Divo dan keluarganya adalah satu dari sekian korban ‘permainan’ ini.
Aku tertegun, aku yakin dengan sepenuh hati bahwa Divo tidak menginginkan kepindahannya. Prestasinya, beasiswanya, serta hafalan qur’annya yang hampir mendekati setengah dari seluruh juz yang ada di dalam qur’an, semuanya harus terbengkalai, terbuang begitu saja. Sebagai wali kelas, adalah wajar jika aku ingin memastikan keadaannya baik-baik saja.
Tak ingin lama memendam risau, aku segera mengarahkan motorku ke alamat Divo yang baru di kota seberang. Kudapat alamat itu dari para tetangganya. Kususuri jalan hingga tiba di sebuah gang bernama ‘Gang Juang’. Kudapati sebuah kontrakan berukuran sedang yang kosong ditinggal penghuninya. Katanya sang pemilik sedang bekerja, namun tak seorang tetanggapun tahu dimana tempat kedua orang tua Divo bekerja.
Gontai, aku limbung harus berbuat apa. Kuarahkan motorku menuju jalan pulang. Masih berkecamuk di kepalaku tentang kotornya permainan politik. Money politic alias politik uang yang selama ini hanya kudengar melalui surat kabar, kini benar-benar terjadi pada orang-orang di sekitarku. Korban dari para pemburu kekuasaan yang gelap mata. Di sebuah lampu merah, mataku tertuju pada seorang penjual koran yang parasnya tak asing bagiku.
Divo, ia menjaja koran sambil membagi-bagi sebuah stiker. Matanya mengernyit menahan panas matahari. Bajunya lusuh dan hanya beralas kaki sandal jepit. Lampu merah masih 30 detik lagi sampai tiba-tiba suara sirine berbunyi keras dan terdengar suara dari ‘toa’ sebuah mobil patroli yang isinya peringatan agar para pedagang, dan lain-lainnya yang mengganggu ketertiban sekitar jalan untuk bergegas pergi. Lampu merah masih 10 detik lagi. Kulihat Divo kebingungan. Segera memberi tahu ayah, ibu, dan adik kecilnya yang ternyata tengah membuka lapak gerobak es di sana untuk segera pergi.
Keriuhan terjadi, para pedangan lari tunggang langgang menghindari para satpol
PP yang tak segan-segan menghancurkan barang dagangan mereka apabila melawan. Kulihat Divo berusaha melindungi keluarganya sambil memohon pada para satpol PP untuk tidak mengangkut gerobak mereka. Lampu hijau menyala, aku masih tertegun antara iba dan tak tau harus bagaimana. Klakson kendaraan yang tak sabar ingin melanjutkan perjalanan menyadarkanku.
Malang, Divo dan keluarganya serta gerobak penopang hidup mereka telah diangkut oleh mobil satpol PP. Kubuntuti mereka hingga ke kantor kepolisian tempat mereka diangkut. Kupanggil Divo segera setelah memarkir motorku. Wajahnya sumringah seolah melihat harapan. Dipeluknya aku sambil meneteskan air mata seolah mengadu dan meminta pertolongan.
Setelah lebih dari satu jam bernegosiasi dan saling menjelaskan, aku berhasil membawa pulang kembali Divo dan keluarganya. Tentu dengan melewati segala tektek bengek surat perjanjian dan lain-lainnya. Setibanya di rumah, terungkap sudah bahwa kepindahan itu terpaksa dilakukan sebab ayah Divo terlilit hutang rentenir kejam yang gemar meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Alhasil, tawaran pembebasan hutang membuat mereka rela menjual kependudukan serta hak pilih mereka pada calon penguasa yang gelap mata dan hatinya. Pindah tanpa jaminan kesejahteraan. Bahkan, kedua orang tua Divo memutuskan untuk memutuskan sekolah Divo sebab tak sanggup lagi jika harus membayar sekolah di sekolah swasta dan berencana memindahkannya ke sekolah negeri.
Benar-benar sadis.Tak kusangka drama semacam ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Aku tidak bisa diam, bagiku diam bukanlah pilihan. Kulaporkan perbuatan biadab calon penguasa tersebut kepada pihak berwajib.
Selang beberapa waktu pasca pelaporanku tentang calon penguasa dzalim tersebut, aku mendapat panggilan dari kepolisian. Aku yang merasa senang sebab akhirnya suaraku didengar langsung memenuhi panggilan. Sayangnya, perasaanku salah. Panggilan tersebut ternyata merupakan panggilan oleh karena aku diduga melakukan tindakan melanggar hukum, yakni mencemarkan nama baik. Aku masuk bui.
Setidaknya, dengan tidak tinggal diam dan berusaha melawan ketidakadilan, aku telah berhasil membuktikan pada Tuhan bahwa aku bukan seorang yang murah menggadaikan idealismeku hanya karena uang atau rasa takut. Aku berhasil membuktikan bahwa potret kepemimpinan di negeri ini masihlah penuh ‘permainan’. Semuanya masih dalam batas ‘main-main’ sehingga ideologi dan idealisme begitu murah menjadi taruhan dalam permainannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
DIAM BUKAN PILIHAN
Danau kecil dengan pohon pinus di sekelilingnya itu selalu tenang dan menenangkan. Danau itu terletak di sebuah sekolah bernafas islam tempa...